Saat
ini sedang terjadi euphoria di kalangan pustakawan perguruan tinggi
(PT). Pemicu dari situasi tersebut adalah berkaitan dengan maraknya
pengembangan konsep perpustakaan berbasis digital. Istilah perpustakaan
digital, digitalisasi, layanan digital berbasis online, seperti layanan
virtual, layanan online dan lainnya sering menjadi bahan perdebatan di
antara pustakawan khususnya pustakawan PT. Permasalahan tersebut sering
menjadi tema sentral di berbagai seminar ataupun diskusi ilmiah di
kalangan pustakawan, bahkan di beberapa milis pustakawan. Beberapa ahli
di bidang perpustakaan membahas dan menuangkan ide-ide tentang
perpustakaan berbasis digital. Ada dinamika perubahan di dalamnya, ada
kehidupan lain yang berbeda dari citra perpustakan selama ini. Berbagai
aspek pembahasan bergulir dengan cepatnya dan salah satu yang berkembang
dan menjadi bahan diskusi adalah tersedianya koleksi dalam bentuk
online seperti online journals.
Online journals
merupakan fenomena tersendiri di antara pesatnya perkembangan
perpustakaan PT saat ini. Perpustakaan PT yang dahulu terbiasa dengan
jurnal tercetak mulai mengalihkan perhatiannya ke jurnal elektronik.
Beberapa perpustakaan seperti berpacu berusaha untuk menyediakan online journals sebagai salah satu jenis koleksi digital. Sebagian lagi masih dalam tahap perencanaan untuk menyediakan online journals. Terkesan perpustakaan memaksakan untuk menyediakan online journals. Padahal tidak sedikit pemikiran dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk itu.
Dibandingkan dengan jenis perpustakaan lainnya, perpustakaan PT tempat yang tepat untuk menyediakan online journals.
Sudut pandang ini dapat dilihat dari kebutuhan informasi penggunanya.
Pengguna perpustakaan PT dapat dikategorikan pengguna potensial online journals.
Mereka adalah civa dan para peneliti di perguruan tinggi yang
bersangkutan. Selain itu dari segi kebutuhannya lebih jelas yaitu
informasi terkini (current information) dalam bentuk
hasil-hasil penelitian atau pendapat para ahli di bidangnya. Semuanya
lebih banyak tersedia di jurnal-jurnal ilmiah. Cakupan online journals
berisi berbagai subjek dalam bentuk artikel hasil penelitian dan juga
pandangan para ahli. Banyak diantaranya dituliskan kembali di jurnal
ilmiah yang kemudian artikelnya dialihbentukan menjadi artikel digital.
Artikel ini membahas lebih jauh proses mengadakan online journals ditinjau dari berbagai aspek. Selain itu apa yang harus dilakukan oleh perpustakaan setelah journals tersedia. Pembahasan berkaitan dengan online journals diharapkan dapat membantu pustakawan PT dalam memutuskan penyediaan online journals.
Online JournalReitz (2007) menggunakan istilah jurnal elektronik (electronic journals) untuk online journals.
Dituliskannya bahwa jurnal elektronik sebagai versi digital dari
jurnal tercetak, atau jurnal seperti dalam bentuk publikasi elektronik
tanpa versi tercetaknya, tersedia melalui email, web atau akses
internet. Baik online journals maupun jurnal tercetak merupakan jurnal
dalam cakupan terbitan berseri. Perbedaannya terletak pada media
aksesnya yang mana jurnal tercetak dalam bentuk tercetak berbahan baku
kertas dan dibaca langsung sedangkan online journals berupa
jurnal dalam bentuk digital dan untuk membacanya perlu mengakses
internet terlebih dahulu. Keduanya memiliki sumber informasi yang sama
yaitu jurnal.
Untuk memberikan pengertian yang sama mengenai jurnal, berikut pengertian jurnal secara umum. Arms (2007) dalam bukunya Digital Libraries
mendefinisikan jurnal sebagai terbitan berseri yang ditulis oleh para
akademisi atau lembaga asosiasi. Jurnal memuat artikel penelitian asli
yang ditandatangani oleh penulis artikel dan terdapat bibliografi di
dalamnya. Jurnal biasanya lebih bersifat ilmiah daripada majalah yang
dapat diperoleh di toko buku atau kios dan artikel jurnal sebelum
diterbitkan melalui tahap resensi atau pengujian terlebih dahulu oleh
para ahli di bidangnya. Dari segi kandungan isi baik dalam jurnal
tercetak maupun online journals adalah sama.
Jurnal sendiri memiliki
fungsi penting dalam perkembangan ilmu. Perpustakaan sebagai lembaga
yang mempunyai fungsi informasi dan penelitian, secara langsung menjadi
matarantai proses perkembangan ilmu tersebut. Seorang ilmuwan akan
menyebarkan informasi atau ilmu yang dimilikinya kepada orang lain
dengan artikel yang ditulis oleh ilmuwan tersebut. Dengan demikian ilmu
yang selama terpendam dalam benak seorang ilmuwan akan terus menyebar.
Proses penyebaran ilmu melaui artikel jurnal merupakan salah satu mata
rantai perkembangan ilmu. Jurnal sebagai media dimana artikel ditulis
memberikan peranan yang besar.
Tahapan di atas sesuai
dengan pendapat Rowland (2007) mengenai fungsi jurnal. Jurnal berfungsi
sebagai sarana menyebarkan informasi (dissemination of information); pengawasan kualitas (quality control); arsip yang resmi sesuai peraturan (the canonical archive) dan mengenal penulisnya (recognition of authors).
Bahkan begitu dijaganya kualitas satu artikel, maka satu jurnal perlu
melihat beberapa hal seperti kualitas yang tinggi melalui peer review (high quality through peer review); penulis yang dikenal melalui identitas jurnal yang kuat (author recognition through strong journal identities) dan juga sumber arsip yang dalam hal ini karya ilmiah (archival sources)
(Hitchcock et al.,1998). Betapa besar peran jurnal, sehingga menjadikan
jurnal sebagai salah satu rujukan yang secara ilmiah dapat diuji
keakuratannya.
Jurnal ilmiah selalu
berkaitan erat dengan satu penelitian. Seorang penulis akan merujuk ke
satu artikel jurnal yang tidak perlu lagi diragukan keakuratan isinya.
Pengawasan terhadap isi satu artikel dilakukan oleh peer review. Fungsi peer review adalah menganalisa kelayakan satu artikel untuk dapat dimuat dalan satu jurnal ilmiah. Emma mendefinikasi peer review
sebagai suatu sistem yang berhubungan dengan suatu penelitian atau
proposal penelitian yang diteliti oleh para ahli independen. Umumnya
berkaitan dengan fungsi teknis dan sujektif disiplin satu ilmu.
Pentingnya peer review diungkapkan oleh Wells berdasarkan pendapat Brown yang menyatakan bahwa jurnal merupakan "alat pembuktian penelitian melalui peer review,
menyediakan validasi melalui sistem rujukan". Semakin jelas bahwa satu
artikel yang diterbitkan pada satu jurnal ilmiah telah melalui tahapan
penyaringan dan tahapan itu membuktikan artikel tersebut ilmiah dan
layak untuk dikutip.
Meskipun sama-sama
sebagai jurnal, jurnal tercetak maupun online journals memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya dapat menjadi
pertimbangan bagi perpustakaan apabila hendak menetapkan pengadaan kedua
jenis jurnal. Brown sebagaimana dikuti oleh Wells, menuliskan beberapa
kelebihan jurnal tercetak, seperti
1. Permanen (permanent), memiliki sifat yang tetap dalam tampilan dan bentuk fisiknya.
2. Menyebar (distributed), beberapa jurnal diletakkan di beberapa perpustakaan atau tempat.
3. Kepercayaan para ilmuwan (scholars trust) dan memahami sistem penerbitan (understand the system)
4. Jurnal memiliki pamor yang berkembang selama bertahun-tahun (journals have prestige built up over many years)
5. Mudah dibawa-bawa (portable) dan mudah untuk membacanya (easy to read)
1. Permanen (permanent), memiliki sifat yang tetap dalam tampilan dan bentuk fisiknya.
2. Menyebar (distributed), beberapa jurnal diletakkan di beberapa perpustakaan atau tempat.
3. Kepercayaan para ilmuwan (scholars trust) dan memahami sistem penerbitan (understand the system)
4. Jurnal memiliki pamor yang berkembang selama bertahun-tahun (journals have prestige built up over many years)
5. Mudah dibawa-bawa (portable) dan mudah untuk membacanya (easy to read)
Disamping kelebihan, jurnal tercetak memiliki beberapa kekurangan, yaitu
1. Sistem rujukan tidak sempurna (the refereeing system is not perfect)
2. Memerlukan biaya untuk membeli dan menyimpan (costly to purchase and store)
3. Penundaan dalam pengumpulan untuk penerbitan (long time delays from submission to publication)
4. Sulit untuk mengindeks dan rujukan silang (difficult to index and cross reference)
5. Kesulitan untuk menelusur (difficult to search)
6. Anggaran perpustakaan yang mengecil, sehingga hanya sedikit jurnal yang dapat dibeli (library budgets are shrinking, so fewer journals can be bought)
7. Pertambahan artikel yang perlu diresensi dan diterbitkan (increasing numbers of papers needing to be reviewed and published).
1. Sistem rujukan tidak sempurna (the refereeing system is not perfect)
2. Memerlukan biaya untuk membeli dan menyimpan (costly to purchase and store)
3. Penundaan dalam pengumpulan untuk penerbitan (long time delays from submission to publication)
4. Sulit untuk mengindeks dan rujukan silang (difficult to index and cross reference)
5. Kesulitan untuk menelusur (difficult to search)
6. Anggaran perpustakaan yang mengecil, sehingga hanya sedikit jurnal yang dapat dibeli (library budgets are shrinking, so fewer journals can be bought)
7. Pertambahan artikel yang perlu diresensi dan diterbitkan (increasing numbers of papers needing to be reviewed and published).
Adapun kelebihan yang online journals adalah sebagai berikut:
1. Kecepatan (speed), artikel dapat segera diletakkan di web tanpa menunggu waktu lama lagi.
2. Penelusurannya mudah (easily searchable), merupakan keuntungan utama dalam format digital. Dengan demikian berpengaruh terhadap berkurangnya duplikasi penelitian karena lebih cepat mengetahui penelitian sebelumnya. Akibat lain bagi pengguna adalah banyaknya informasi dalam bentuk artikel yang terkumpul karena dibaca dan dirasakan terbaru isinya.
3. Interaktif (interactive), kemudahan dalam mengakses artikel yang langsung dibaca dan juga dicetak (printed) jika dibutuhkan. Artikel dapat segera dikirim melalui emai.
4. Aksesibilitas (accessible), akses melalui internet merupakan salah satu cara akses yang berbeda dengan jurnal tercetak. Cara tersebut memberikan kemudahan mengakses beberapa jurnal sehingga online journals dan sebagai pemecah kendala dalam penelitian yang demokratis (breaking down the barriers to democratic research). Kelebihan lainnya beberapa pengguna dapat mengakses online journals secara bersamaan.
5. Links, merupakan kaitan antara satu artikel dengan artikel lainnya yang disitir (hypertext format). Fitus links memungkinkan untuk mengetahui artikel yang mensitir artikel yang sedang dibaca tersebut. Selain itu satu judul artikel yang terdapat pada bibliografi satu artikel dapat dibuka kembali sebagai satu rujukan lain yang berbeda.
6. Nilai tambah (added value), merupakan kelebihan lainnya dari online journals yaitu dapat menggunakan animasi, virtual reality dan diagram matematik interaktif (interactive mathematical charts). "Artikel hidup" tersebut menginformasikan juga eksperimen yang sedang berlangsung dan pembaruan yang sering dikerjakan.
7. Murah (inexpensive), masalah ini selalu menjadi perdebatan. Menggunakan online journals telah mengurangi biaya sebanyak 70% dibandingkan apabila membeli jurnal tercetak. Banyaknya jurnal yang diakses menjadi salah satu unsur pemanfaatan online journals menjadi lebih murah daripada jurnal tercetak.
8. Fleksibel (flexibility), dengan menggunakan online journals tidak tergantung dengan format, printer atau jaringan distribusi yang selalu melekat dengan jurnal tercetak.
1. Kecepatan (speed), artikel dapat segera diletakkan di web tanpa menunggu waktu lama lagi.
2. Penelusurannya mudah (easily searchable), merupakan keuntungan utama dalam format digital. Dengan demikian berpengaruh terhadap berkurangnya duplikasi penelitian karena lebih cepat mengetahui penelitian sebelumnya. Akibat lain bagi pengguna adalah banyaknya informasi dalam bentuk artikel yang terkumpul karena dibaca dan dirasakan terbaru isinya.
3. Interaktif (interactive), kemudahan dalam mengakses artikel yang langsung dibaca dan juga dicetak (printed) jika dibutuhkan. Artikel dapat segera dikirim melalui emai.
4. Aksesibilitas (accessible), akses melalui internet merupakan salah satu cara akses yang berbeda dengan jurnal tercetak. Cara tersebut memberikan kemudahan mengakses beberapa jurnal sehingga online journals dan sebagai pemecah kendala dalam penelitian yang demokratis (breaking down the barriers to democratic research). Kelebihan lainnya beberapa pengguna dapat mengakses online journals secara bersamaan.
5. Links, merupakan kaitan antara satu artikel dengan artikel lainnya yang disitir (hypertext format). Fitus links memungkinkan untuk mengetahui artikel yang mensitir artikel yang sedang dibaca tersebut. Selain itu satu judul artikel yang terdapat pada bibliografi satu artikel dapat dibuka kembali sebagai satu rujukan lain yang berbeda.
6. Nilai tambah (added value), merupakan kelebihan lainnya dari online journals yaitu dapat menggunakan animasi, virtual reality dan diagram matematik interaktif (interactive mathematical charts). "Artikel hidup" tersebut menginformasikan juga eksperimen yang sedang berlangsung dan pembaruan yang sering dikerjakan.
7. Murah (inexpensive), masalah ini selalu menjadi perdebatan. Menggunakan online journals telah mengurangi biaya sebanyak 70% dibandingkan apabila membeli jurnal tercetak. Banyaknya jurnal yang diakses menjadi salah satu unsur pemanfaatan online journals menjadi lebih murah daripada jurnal tercetak.
8. Fleksibel (flexibility), dengan menggunakan online journals tidak tergantung dengan format, printer atau jaringan distribusi yang selalu melekat dengan jurnal tercetak.
Selain kelebihan di atas, pengguna perlu juga mengetahui beberapa kekurangannya.
1. Kesulitan membaca layar komputer (difficulty reading computer screens). Kesulitan ini muncul karena pada saat mengakses online journals secara bersamaan pengguna membuka windows lainnya. Cara ini berpengaruh juga pada proses download dari hasil akhir pencarian.
2. Sering tidak memasukkan indeks dan abstrak (often not included in indexing and abstracting services). Pada umumnya artikel yang terdapat di online journals menyediakan keduanya, tetapi ada juga yang tidak melengkapi salah satunya.
3. Pengarsipan (archiving), beberapa hal yang berkaitan dengan online journals adalah proses penyimpanan data digitalnya. Perpustakaan perlu menetapkan pilihan apakah akan disimpan sebagai koleksi tersendiri pada tempat terpisah atau dibiarkan sesuai dengan kebutuhan pengguna karena bisa diakses kapan saja sepanjang masih dilanggan oleh perpustakaan.
4. Sitasi yang mudah rusak (perishable citation), perubahan URL menjadikan akses ke online journals menjadi terganggu bahkan hilang semuanya.
5. Keaslian (authenticity), sumber dan otoritas material secara umum menjadi perhatian pada akses online journals. Kredibilitas pembacanya selalu harus diperhatikan oleh online journals.
6. Mesin pencari mengabaikan file PDF (search engines ignore PDF files), perlu memperhatikan format dari artikel online journals. Format yang tersedia merupakan copy dari versi jurnal tercetaknya.
1. Kesulitan membaca layar komputer (difficulty reading computer screens). Kesulitan ini muncul karena pada saat mengakses online journals secara bersamaan pengguna membuka windows lainnya. Cara ini berpengaruh juga pada proses download dari hasil akhir pencarian.
2. Sering tidak memasukkan indeks dan abstrak (often not included in indexing and abstracting services). Pada umumnya artikel yang terdapat di online journals menyediakan keduanya, tetapi ada juga yang tidak melengkapi salah satunya.
3. Pengarsipan (archiving), beberapa hal yang berkaitan dengan online journals adalah proses penyimpanan data digitalnya. Perpustakaan perlu menetapkan pilihan apakah akan disimpan sebagai koleksi tersendiri pada tempat terpisah atau dibiarkan sesuai dengan kebutuhan pengguna karena bisa diakses kapan saja sepanjang masih dilanggan oleh perpustakaan.
4. Sitasi yang mudah rusak (perishable citation), perubahan URL menjadikan akses ke online journals menjadi terganggu bahkan hilang semuanya.
5. Keaslian (authenticity), sumber dan otoritas material secara umum menjadi perhatian pada akses online journals. Kredibilitas pembacanya selalu harus diperhatikan oleh online journals.
6. Mesin pencari mengabaikan file PDF (search engines ignore PDF files), perlu memperhatikan format dari artikel online journals. Format yang tersedia merupakan copy dari versi jurnal tercetaknya.
sumber : http://www.pnri.go.id/MajalahOnlineAdd.aspx?id=89
Tidak ada komentar:
Posting Komentar